Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said: Seminar Internasional Manuskrip Al-Qur’an Penting bagi Penjagaan Otentisitas Al-Qur’an

ARTIKEL 24 Oct 2026 15:28 • 4 min read • 254 views • By Sumayyah

Share berita ini

Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said: Seminar Internasional Manuskrip Al-Qur’an Penting bagi Penjagaan Otentisitas Al-Qur’an
Guru Besar UIN Jakarta Prof. Hasani Ahmad Said: Seminar Internasional Manuskrip Al-Qur’an Penting bagi Penjagaan Otentisitas Al-Qur’an

JAKARTA, 24 Oktober 2026 — Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Tafsir Maqashidi, menghadiri seminar internasional bertajuk “Ancient Qur’anic Manuscripts in the History of the Qur’an” yang diselenggarakan di Hotel Yuan Garden, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

 

Seminar internasional ini mengangkat pentingnya kajian manuskrip Al-Qur’an kuno dalam memahami sejarah Al-Qur’an, tradisi penulisan mushaf, serta upaya menjaga warisan keilmuan Islam lintas generasi.

 

Bagi Prof. Hasani, forum akademik semacam ini memiliki relevansi penting dengan pengembangan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, terutama dalam membangun kesadaran bahwa penjagaan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan tradisi membaca dan menghafal, tetapi juga mencakup penelitian ilmiah, dokumentasi, dan pemeliharaan khazanah manuskrip.

 

IPIM dan Peran Strategis Menjaga Otentisitas Al-Qur’an

 

Dalam pandangan yang disampaikan terkait seminar tersebut, Prof. Hasani menekankan pentingnya keterlibatan berbagai elemen umat Islam dalam menjaga otentisitas Al-Qur’an, termasuk organisasi yang bergerak dalam pembinaan dan pelayanan umat.

 

“International Seminar yang bertajuk Ancient Quranic Manuscripts in the History of the Quran ini penting bagi penjagaan Al-Qur’an. IPIM menjadi bagian penting dalam menjaga otentisitas Al-Qur’an tersebut,” demikian pandangan Prof. Hasani sebagaimana disampaikan dalam konteks kegiatan ini.

 

Pandangan tersebut menempatkan Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) sebagai salah satu elemen strategis dalam ekosistem penjagaan Al-Qur’an. Melalui peran imam masjid, pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta penguatan literasi Al-Qur’an, organisasi profesi imam masjid memiliki ruang kontribusi dalam meneruskan tradisi keilmuan Al-Qur’an kepada masyarakat.

 

Sementara itu, kajian manuskrip memberikan kontribusi melalui penelitian historis dan filologis terhadap naskah-naskah kuno. Kedua ranah ini memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam memperkuat pemahaman dan penghormatan terhadap warisan Al-Qur’an.

 

Relevansi Seminar dengan Kepakaran Tafsir Maqashidi

 

Sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Tafsir Maqashidi, Prof. Hasani memiliki perhatian akademik terhadap pengembangan metodologi penafsiran yang menghubungkan pemahaman teks Al-Qur’an dengan konteks dan tujuan syariat.

 

Tafsir Maqashidi tidak hanya berupaya memahami makna ayat, tetapi juga menggali tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan melalui petunjuk Al-Qur’an.

 

Dalam konteks seminar manuskrip, kajian sejarah dan keaslian naskah merupakan bagian dari ruang penelitian yang penting bagi Ilmu Al-Qur’an. Adapun Tafsir Maqashidi memberikan perspektif lanjutan mengenai bagaimana petunjuk Al-Qur’an dipahami dan diaktualisasikan untuk menjawab kebutuhan kehidupan manusia.

 

Keterkaitan keduanya terletak pada semangat membangun kajian Al-Qur’an yang mendalam, bertanggung jawab secara akademik, dan tetap relevan dengan tantangan zaman.

 

Menghubungkan Warisan Keilmuan dengan Pengabdian Umat

 

Kehadiran Prof. Hasani dalam seminar internasional ini juga menjadi momentum untuk memperkuat dialog antara kalangan akademisi, organisasi keagamaan, dan masyarakat dalam merawat tradisi keilmuan Islam.

 

Penjagaan Al-Qur’an merupakan tanggung jawab umat yang diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian. Penelitian manuskrip, pendidikan Al-Qur’an, pembinaan imam masjid, pengajaran tafsir, serta penguatan literasi keislaman merupakan bidang-bidang yang dapat saling mendukung.

 

Bagi IPIM, perspektif tersebut dapat menjadi pengingat bahwa peran imam masjid tidak terbatas pada kepemimpinan ibadah, tetapi juga mencakup pembinaan masyarakat agar semakin dekat dengan Al-Qur’an melalui pemahaman yang benar, pengamalan nilai-nilainya, dan penerusan tradisi keilmuan Islam.

 

Dengan demikian, seminar internasional manuskrip Al-Qur’an bukan sekadar forum untuk menelaah peninggalan masa lalu. Kegiatan ini juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana warisan Al-Qur’an terus dijaga, dikaji, dan dihadirkan dalam kehidupan umat.

 

Kehadiran Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., memperkuat relevansi dialog tersebut, khususnya dalam mempertemukan kajian Ilmu Al-Qur’an, pengembangan Tafsir Maqashidi, dan kontribusi organisasi keagamaan dalam menjaga keberlanjutan tradisi Al-Qur’an.

 

Redaksi Askaf News

Askaf News
Chat with us on WhatsApp